Monday, July 20, 2015

Cinta Monyet Telah Menjadi Single Parent

Sumber gambar: twitter.com
Kalau ditanya kapan mulai jatuh cinta sama ustadz, pasti saya akan jawab ini: sejak SD kelas 4. Sama ustadz saya gak boleh bohong, takut dosa.

Saya tahu kini kalau cinta waktu SD itu disebutnya cinta monyet, populernya demikianlah kira-kira. Iya, dulu, saat SD silam, saya pernah jatuh cinta sama cewek namanya Paramitha, tentu nama Paramitha adalah nama samaran, saya pake nama Paramitha itu sebab saya kok jadi agak membayangkan jangan-jangan Paramitha Rusady di usia SD kelas 4 rada-rada mirip dia. Iya, jadi daripada saya mikirnya lama untuk menyamarkan identitas cinta monyet saya itu, maka saya putuskan untuk kasih nama: Paramitha.

Saya dan Paramitha beda SD, tapi masih di lingkungan yang sama, dengan kata lain SD saya dan SD Paramitha berdampingan. Sebut saja saya di SD A1 dan Paramitha di SD A2. Saat kelas 4, kelas saya dan kelasnya Paramitha berhadap-hadapan. Benar sekali bila menduga bahwa SD A1 dan SD A2 tidak dipisahkan oleh pembatas, yang menjadi pembeda hanya cat bangunannya saja, sehingga situasi di SD A1 dan SD A2 seperti satu SD saja.

Kecantikan Paramitha membuat saya terpana. Saat kami sama-sama datang ke sekolah pagi-pagi sekali. Paramitha bagian piket sehingga mesti bersih-bersih dulu kelas, begitu juga dengan saya. Paramitha sedang ngepel lantai, sementara saya di kelas seberang sedang memandangnya sambil pegang sapu. Saat ia sesekali memandang ke arah saya, segera saya pura-pura nyapu, malu juga kalau ketahuan, maklum saat itu saya masih SD. Pagi itu, teman-teman saya maupun teman Paramitha yang kebagian jadwal piket hari ini pada mangkir dari tanggung jawab sehingga pagi itu saya dan Paramitha cuman ada berdua. Sayang cuman setengah jam saja, selepas itu, murid-murid yang lain pada rame berdatangan tidak lupa membawa tas sekolah.

Saya suka ajak teman-teman sekelas saya untuk mendingan jajannya di kantin SD A2, kebetulan jarak antara kantin SD A2 dengan kelas saya lebih dekat ketimbang dengan kantin SD A1, sehingga modus saya gak terendus bahwa sesungguhnya saya ingin lihat Paramitha jajan bala-bala atau gehu. Ternyata teman sekelas saya, sebut saja Gunawan kenal sama Paramitha, soalnya rumah mereka berdekatan, Paramitha adalah tetangganya Gunawan. Oleh karena itu, saya suka tidak lupa untuk baik-baikin Gunawan di kemudian harinya. Gunawan suka saya traktir terus makan bala-bala dan gehu, biar entar kalau saya tunya tanya tentang Paramitha ia mau menjawabnya.

"Paramitha suka nonton kartun Doraemon."

"Paramitha jago main petak umpet.. Kalo sembunyi susah dicarinya."

Mendengar cerita Gunawan tentang Paramitha, saya jadi ingin main ke tempat mereka, ingin main bersama-sama saat minggu datang. Rumahnya Gunawan dan Paramitha, bagi saya yang masih SD kala itu, terbilang lumayan jauh walaupun masih satu desa. Rumah mereka berada di lingkungan RW 01, dan rumah saya berada di lingkungan RW 05, yah jaraknya sekitar 500 meteran.

Tapi entah mengapa, saya yang masih SD kelas 4 kala itu, kayak orang yang sedang mabuk cinta, gak peduli walaupun jauh juga, saya ingin bermain bersama Paramitha di lingkungan RW 01.

"Ma, mau main dulu.." Ijin saya sama ibu setelah nonton Doraemon.

"Kemana?"

"Ke rumah Gunawan."

Ibu saya gak tahu kalau rumah Gunawan berada di lingkungan RW 01, mungkin dikiranya rumah Gunawan dekat saja masih di lingkungan RW 05 sini, sehingga beliau gak menghalang-halangi kepergian saya. Dan saya jalan kaki pergi ke lingkungan RW 01. Coba bayangkan anak sekecil itu sudah berani bermain jauh, jalan kaki lagi, ah demi cinta, padahal itu cinta monyet masuknya tapi itu juga bisa dimasukkan ke dalam the power of love.

Pernah saya saat nonton Doraemon. Langsung membayangkan bahwa saya adalah Nobita, dan Paramitha adalah Shizuka. Saya membayangkan kalau saya punya Doraemon, pasti saya akan ajak Paramitha jalan-jalan keliling desa pake baling-baling bambu. Lihat persawahan dari ketinggian. Oh indahnya..

Pernah juga saya membayangkan sesuatu tentang Paramitha saat saya sedang nonton Ksatria Baja Hitam. Saya membayangkan bahwa saya adalah Kotaro Minami yang bisa berubah jadi Ksatria Baja Hitam. Saya dengar ada monster jahat sedang menganggu desa kami. Mengobrak-ngabrik rumah-rumah. Mengacak-ngacak persawahan. Dalam bayangan saya, tiba-tiba saya sedang naik motor yang biasa dipake kotari minami dengan kecepatan tinggi, wuissss terus berubah jadi Ksatria Baja Hitam. Saya loncat dari belalang tempur sebab di sana Paramitha mau dimakan sama monster jahat. Dengan jurus seperti monyet ambil pisang dari turis asing, begitu juga saya mencomot Paramitha dari tangan monster jahat. Dengan membawa senyuman Paramitha saya pun bertarung dengan monster jahat itu. Lagi-lagi the power of love keluar sebagai pemenang, monster jahat itu game over.

Yah begitulah. Cinta saya sama Paramitha terus berlanjut hingga ke SMP, sengaja saya memilih SMP yang sama dengan Paramitha. Cinta monyet saya hilang begitu saja ketika saya menemukan kekasih hati lainnya di SMA kelas 2. Lagi pula, saya dan Paramitha tidak masuk ke SMA yang sama, Paramitha saat masuk ke SMA pindah rumah ke Sukabumi, dan itu cukup jauh walaupun masih sama-sama daerah Jawa Barat.

16 tahun kemudian..

Saya masih menganggur, tapi saya cukup bangga dengan status saya itu sebab dalam menganggur ada proyek pribadi yang sedang saya impikan supaya dapat terwujud, dengan kata lain kalau saya mencari kerja saya takutnya menganggu proyek pribadi saya itu. Nah, pada saat itu, saat saya mau makan nasi padang di seberang jalan, untung saya celingak celinguk lihat kiri kanan, sebab saya menemukan pengemudi dari kaca depan sedang kayak menyuruh diam dijok pada anaknya yang masih kecil sehingga gak lihat jalanan. Pengemudi itu tidak lihat saya, tapi saya melihatnya. "Kalau gak salah itu kan Paramitha," batin saya berkata.

Masih di masa itu, secara gak terduga saya ketemu sama Gunawan di jalan saat saya mau beli rokok ke warung. Ia sengaja menghentikan sepeda motornya ketika melihat saya sedang berjalan.

"Kemana aja Bro?"

"Weiss lu kemana aja?"

"Gua kerja di Bekasi."

"O, gitu."

"Paramitha juga balik lagi ke sini sekarang.. Kasihan Bro.. Cerai sama suaminya.. Punya anak satu.. Tapi dia punya mobil sekarang, kalah deh gua mah."

"Yaris merah bukan?" Saya tanya.

"Iya."

Setelah Gunawan pergi meninggalkan saya, saya membatin. "Cinta monyet telah menjadi single parent.." Saya melamun. Untung saya gak lupa mau beli rokok, bahaya kalau lupa, soalnya saya udah makan petai dikit.. hehe.


Ok Brosis. Peristiwa di atas hanya fiktif belaka, semoga gak ada yang tersinggung ya.. :)

Insert foto: Idola admin saat SMP tuh, saat SMA suka bingit nonton film Catatan Si Boy dulu.. :)

Comments
7 Comments

7 komentar

hahaha, fiktif lagi... fiktif lagi... asli gila kalau ini non fiktif. kesannya kayak... nunggu cinta orang lain putus. parah

Haahahanjir, gue kira mah beneran. :))

Keren-keren. :D

Meski gue masih agak bingung apa korelasinya anak kelas 4 SD sama fotonya Mbak Paramitha. Bayanginnya ngaco. :p

hihihhi di kirain cerita nyata mas diar :D ehh hanya cerita fiktif belaka hahaha
minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin :)

Semoga beli rokok nya juga fiktif deh.. Nobita kan digambarkan sebagai sosok sial >_< oh ya, tapi ini fiktif. Tapi judul blog post ini cocok dijadikan novel nih.. Eyecatching

Http://beautyasti1.blogspot.com

Paramitha oh Paramitha ... bayangmu selalu, hehehehe

ceritanya bagus mas, untung cuma fiksi ya.. liat fotonya saya kira paramitha yang itu.

Ya, ampun kocak, hihihi. Gak kebayang ya ada anak kecil sampai rela gitu nyamperin ke tempat yang jauh xD


EmoticonEmoticon