Sunday, December 17, 2017

Cengiz Under Bisa Jadi Belati

Cengiz Under Roma
Photo: Getty Images
Tentang bursa transfer di bulan Januari aku tak membaca surat kabar, aku bahagia bersama Roma utamanya ketika aku mengingat kembali kenangan di Pra Musim Amerika melawan Tottenham Hotspur. Bahwa aku, sebagai pemain baru, pada saat itu mampu terbang seperti burung yang punya sayap meskipun terlihat masih malu-malu tapi tak tampak ragu. Memasuki kompetisi resmi, aku masih beradaptasi, tentang bahasa, tentang kehidupan sebagai gaya, Turki berbeda budaya dengan Italia, termasuk perkara sepakbola. Di Turki, Mustafa Kemal adalah pelopor. Di Romawi, Julius Caesar adalah kaisar. Ini aku ingin mengatakan: aku ingin menjadi pemain besar. Dan aku bekerja keras untuk itu, anda bisa melihat semangat itu kuhadirkan di laga Roma 1 v 0 Cagliari: Aku tak ingin pergi dari Roma di bulan Januari, aku ingin bertarung meraih scudetto bersama Roma pada musim ini. Gelagatnya, aku bisa jadi belati untuk Roma.

#HahaForzaRoma :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Situasi Cengiz Under Menjelang Jendela Transfer di Bulan Januari.

Saturday, December 16, 2017

Roma 1 v 0 Cagliari 17 Desember 2017

Embed from Getty Images
Ini lanjutan Serie A Liga Italia: Roma 1 v 0 Cagliari 17 Desember 2017.

Karena ada gangguan teknis di sini di babak satu, aku pikir, apa boleh buat aku harus mengatakan ini: tak melihat babak satu. Baru babak dua, sungguh, kurasakan streaming lancar haha. Dan aku tak mau melihat teknologi VAR: maksudnya tak ingin melihat situasi di babak satu bagaimana melalui salah satu video yang ada di YouTube (itu pun kalau ada). Kalau Roma menang, ingatanku suka kuat. Aku akan berbicara berdasarkan apa yang kuingat. 

Pertandingan ini aku gambarkan sebagai: Hidup teknologi VAR!

Aku curiga di babak satu, Roma pun tetap mendominasi permainan dengan cara membangun serangan secara kalem untuk membongkar sistem pertahanan Cagliari yang bermain bertahan. Di babak kedua, kubaca begitu.

Lalu terciptalah peluang pada menit ke-49. Pada mulanya terlihat Edin Dzeko seperti melakukan diving di kotak penalti Cagliari ketika penyerang Roma itu dihadang kiper Cagliari, sebab pada saat itu kulihat wasit langsung meniup peluit dan mengacungkan kartu kuning untuk Edin Dzeko. Meskipun Edin Dzeko berekspresi hanya geleng-geleng kepala, dan tak ada aura protes berlebih, sebelumnya aku curiga Dzeko memang melakukan diving, tapi pas lihat tayangan ulang memang ada gerakan sebelah tangan kiper yang menyentuh kaki Edin Dzeko (bisa jadi ini karena teknik menjatuhkan diri yang dilakukan oleh Edin Dzeko), tak kusangka wasit kemudian seperti membetulkan sesuatu ditelinganya (yang aku curiga ini ada kaitannya dengan teknologi VAR), tak lama itu wasit berlari ke pinggir lapangan untuk melihat video tayangan ulang. Dan sontak aku bergembira ketika sekembalinya wasit ke lapangan, ia menunjuk titik putih, bahwa tadi kiper Cagliari telah melakukan pelanggaran kepada Edin Dzeko. Tapi sayang, Diego Perotti sebagai penendang penalti gagal mengonversi peluang itu menjadi gol, di sana kiper Cagliari berhasil membaca arah bola yang ditendang oleh Diego Perotti, tendangan penalti ditepis. Jadi: kedudukan tetap kosong-kosong.

Bukan main Cagliari main: full bertahan. Membiarkan diri menunggu lama-lama, bikin skema penyerangan Roma jadinya mati gaya. Memasuki menit enampuluhan ke atas, pelatih Di Francesco melakukan hal yang benar dengan memasukan satu pemain yang bertipe penyerang untuk mengganti gelandang tengah, di sini Stephan El Shaarawy masuk (kalau tak salah menggantikan Pellegrini). Alhasil: sekemampuan terlihat Roma terus mencoba membangun serangan. Terlihat: bermain setengah lapangan. Cagliari seperti dikurung. Belum juga tercipta gol sampai menit delapanpuluhan, pelatih Di Francesco memasukan penyerang sayap yang lebih segar Cengiz Under untuk menggantikan penyerang sayap Patrik Schick. Kulihat, Cengiz Under terlihat langsung memberikan gebrakan melalui penetrasi, apalagi saat ia melakukan gerakan wonderful (wonderful aku kutip dari komentator pada saat itu), meskipun tak berbuah gol atau menghasilkan peluang yang berarti, tapi gerakan itu Cengiz Under bagai ingin memberi tahu: aku tak ingin pergi dari Roma di bulan Januari.

Tibalah menit-menit akhir injury time. Menit ke-93. Dari peluang tendangan bebas yang dilakukan oleh Kolarov. Sontak aku terperanjat ketika Fazio berhasil meneruskan tendangan itu dengan menyodoknya ke gawang Cagliari, dan gol. Dan selebrasi gol telah dilakukan oleh para pemain Roma dengan mengejar Fazio lalu mengerumuninya. Tapi kemudian, wasit bikin situasi tegang di hatiku, sebab di sana terlihat wasit meragukan apakah itu sah gol apakah tidak, dengan cara: berlari ke pinggir lapangan untuk melihat teknologi VAR. Sekembalinya wasit ke tengah lapangan lalu kedua tangannya melakukan isyarat menunjuk titik tengah lapangan, seriusan aku kayak anak alay: serta merta memeluk bantal. Gol Fazio sah saudara-saudara haha. Seisi stadion pun bergemuruh merayakan. Full time: Roma 1 v 0 Cagliari.
Embed from Getty Images

#GrazieRoma :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Kartu Merah Felipe dal Belo.

Super Sub

Embed from Getty Images
Pelatih Hansip punya skema mapan: menyerupai 3-4-1-2 AS Roma era Fabio Capello. Di Trequartista yang menyinari lini, ada kapten kami, Francesco Roni. Di Second Stiker, ada aku yang tokcer. Di Center Forward, ada Marco Ahmad. Tapi Marco Ahmad, hampir selalu diganti pada babak kedua, oleh Gabriel Engkus. Di sini, aku ingin memberitahu: Gabriel Engkus adalah Super Sub.

Di zaman Manchester United masih dilatih oleh Sir Alex Ferguson, aku terkenang Ole Gunnar Solskjaer, lebih dekat dari akhir kepelatihan Sir Alex aku teringat Chicarito. Gabriel Engkus, seperti Ole Gunnar Solskjaer, seperti Chicarito, mereka memiliki kemampuan sebagai Super Sub.

Super Sub yang kumaksud adalah ketika masuk sebagai pemain pengganti, gol kerap kali menjadi kontribusi. Tiap kali dimasukan sebagai pengganti, tiap kali gol ia beri, di sini dilakukan berulang kali, bukan hanya sekali.

Tapi aku curiga, pelatih Hansip kerap memasukan Gabriel Engkus di babak kedua, bermula dari indisipliner: Gabriel Engkus suka kedapatan main kebut-kebutan di jalan desa kami sehingga membuka ruang danger yang bikin khawatir. Pelatih Hansip pernah menegur, tapi Gabriel Engkus bak langit tak mendengar.

Mengingat Gabriel Engkus merupakan pemain tak berteknik, tak seperti Francesco Roni kapten kami, ia hanya mengandalkan respon dan kecepatan, maka pelatih Hansip berpikir bahwa Gabriel Engkus tak masalah dijadikan bamper Marco Ahmad, di luar dugaan justru karena sebagai bamper Marco Ahmad itulah Gabriel Engkus di turnamen antar desa (yang diselenggarakan setelah sebulan di daratan Eropa telah dihelat Piala Eropa 2004) menjelma menjadi super sub bagi tim desa kami.

Gabriel Engkus, yang terlihat di pinggir lapangan sedang melakukan pemanasan karena pertandingan Semi Final tim desa kami melawan tim desa tetangga telah memasuki pertengahan babak kedua sementara kedudukan masih imbang dua sama, tatapannya seperti memberi sinyal: tampil tiap pertandingan hanya 15 menit, dalam 4 pertandingan telah mencetak 4 gol, di tiap pertandingan mencetak 1 gol. Bandingkan dengan Marco Ahmad, yang mendapatkan waktu 75 menit tiap pertandingan, dalam 4 penampilan hanya mencetak 2 gol. Itulah Gabriel Engkus, Sang Super Sub.

#Hehe :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: MENIRU GAYA RAMBUT TOTTI TAHUN 2004.

Radja Nainggolan Jelang Lawan Cagliari

Embed from Getty Images
Roma cintaku, kalau aku tak bermain meski sekali aku mengalami lindu. Melawan Cagliari, bagiku ini seperti Derby, melawan mantan yang tetap kusimpan di hati. Aku sadari kartu kuning telah menjadi telunjuk di pertandingan melawan Cagliari, jika aku tak mau melewatkan pertandingan melawan juventus di pekan selanjutnya nanti. Ini dilematis bagiku dan pelatih, tapi hadapilah. Sedari aku suka melihat matahari di Cagliari, aku merasakan Juventus suka mendapatkan bala bantuan dari sesuatu yang tak kumengerti. Aku katakan pada kalian itu. Haha.

#HahaForzaRoma
#RomaDayRomaCagliari :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Kami Adalah Segitiga Bermuda.

Membully Pemain Klub Idola

Embed from Getty Images
Bully Defrel di Facebook, tapi kalau misal ke Indonesia dan bertemu: tak minta foto bareng.

"Masih cedera Frel?"

"Iya, rasane koyo kena ketapel."

#Haha :D

Baca juga: Puisi Defrel: Aku Ingin Menjadi Rudal.

Membully pemain klub idola yang bermain menjengkelkan, kalau aku pikir ini: sebagai bentuk fighting spirit. Atau seperti teriakan kapten De Rossi yang berdarah romawi. Asal ini: tak ada terselip benci di dalam hati, meskipun secara kata-kata terlihat seperti orang yang membenci. Aku suka ambil positif kepada beberapa teman yang mengeluh menjurus melakukan bully kepada pemain, jadi aku sebenarnya terbawa arus wkwkwk.

Membully pemain klub idola sebagaimana dialog yang kuciptakan di atas, tak beraroma politis. Ia murni datang dari hati yang tulus, kepengin pemain yang dibully lantas bermain bagus. Tak perlu disimpan serius, karena bisa jadi perkataan itu disampaikan dengan muka yang tak bengis, meskipun terbaca ketus.

Ini membully yang asyik, meskipun tetap terdengar berisik, tapi tak hadir dari hati yang busuk. Seperti kau membully teman sendiri yang tak becus menyatakan cinta kepada jantung hati yang ditolak. Seperti kau berbuat kekeliruan dan menyadari bahwa itu keliru tapi tembok kau tampar atau kaleng kosong kau tendang atau botol plastik kau injak-injak.

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Membully dalam Nonton Bola.

Friday, December 15, 2017

Godaan Menduetkan Schick dengan Dzeko

Dzeko Schick Roma
Photo: topsy.one
Di tiap pertandingan yang membutuhkan kemenangan, pelatih kelihatan memerlukan variasi lain dalam melakukan serangan, agar serangan tak berlangsung monoton, lalu tercapai apa yang menjadi tujuan. Ini aku berbicara mengenai contohnya: pertandingan melawan tim medioker di kancah Liga Italia Serie A, tapi sudah memasuki menit enampuluhan atau tujuhpuluhan kedudukan masih imbang. Maka punya plan lain: keberuntungan.

Duet Schick-Dzeko berpotensi menciptakan keberuntungan. Dalam Chievo 0 v 0 Roma 10 Desember 2017 yang lalu, aku mencium aroma itu. Meskipun realita tak terjadi, tapi itu baru dimainkan sekali, juga masih bukan dalam bentuk duet, Schick saat itu berganti jadi bermain melebar ketika Dzeko masuk di babak kedua. Maksudku berduet: Schick sebagai Second Stiker (SS) dan Dzeko sebagai Center Forward (CF). Bisa dalam modul: 4-4-2 atau 4-3-1-2 atau 3-5-2. Keberuntungan tercipta karena dilakukan bertubi-bertubi. Bertubi-tubi bisa diartikan sebagai: sering dikondisikan. Dan pengkondisian menduetkan Schick dengan Dzeko seperti jentikan mata perempuan: godaan.

Patrik Schick punya teknik untuk menjadi penyerang bayangan. Ia berpotensi menciptakan kegaduhan di sistem pertahanan lawan. Bisa kemudian memberi umpan kepada penyerang murni, bisa juga lansung tendang ke arah gawang yang menusuk seperti belati. Potensi itu sudah dapat dilihat, bukan hanya di satu pertandingan yang ia main penuh tapi juga di dua pertandingan yang singkat, apalagi mengenai melakukan tendangan dari jarak jauh yang berkelebat.

Baca juga: Mentari Pagi Patrik Schick.

Sementara Edin Dzeko, potensinya sebagai penyerang murni sudah tak diragukan, meskipun pada musim ini menjelang dua bulanan separuh musim, mengenai pundi gol sempat mengalami puasa, atau seperti tersendat, tapi Dzeko secara tim berkontribusi. Nah, justru, Schick yang sudah bugar dan di pertandingan ia main penuh seperti memberi mentari, ditambah mengenai data itu (Dzeko yang golnya seperti tersendat), ini tak ubahnya lelaki jones melihat perempuan cantik berbusana atasannya tampak membuntang: godaan. Bisa dalam bentuk karena konsentrasi pemain bertahan lawan dibuyarkan oleh sang penyerang bayangan Schick sehingga sang penyerang murni Dzeko tanpa pengawalan, sebagai taktik lain. Itu dia: Godaan menduetkan Schick dengan Dzeko.

#Hehe :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Pertandingan Ke-9.

Situasi Cengiz Under Menjelang Jendela Transfer di Bulan Januari

Embed from Getty Images
Aku baca berita AS Roma di laman berbahasa Italia pagineromaniste.com dengan membawa kegelisahan hati. Aku tahu bursa transfer musim dingin jendelanya akan segera terbuka di bulan Januari.

Wahai, Cengiz Under yang bertalenta
Kau muda, butuh bercahaya
Kau muda, butuh jam terbang lama
Kau muda, jadilah Mustafa

Pemuda Turki, tentu tahu sejarah Khilafah Turki Utsmani. Mustafa Kemal bukan yang mengubah Turki, tapi memang abad duapuluh orang menyadari tentang perlunya Demokrasi (pengetahuan mengenai Mustafa Kemal ini kuketahui dari membaca Caping Tempo Goenawan Mohamad judulnya Turki). Sengaja, aku mencatut nama besar Caping Tempo Pak Goenawan Mohamad, biar syair itu terkesan berbobot, aku memang pengagum berat tulisan-tulisan Pak Goenawan Mohamad di Caping Tempo, bahkan mencoba untuk menirunya meskipun tak kesampaian (secara keilmuan dan segala rupanya haha).

Hingga tibalah aku pada artikel berjudul: L'agente di Under a PR: "Non ci sono sviluppi di mercato al momento. Sta lavorando duro per adattarsi." Tayang 14 Desember 2017. Dengan bantuan Google Translet, tentu, aku bisa mengetahui apa isi artikel itu.

Tim editorial Pagineromaniste.com menghubungi Agen Cengiz Under yang diketahui bernama Omer Uzun, di tengah situasi permainan Cengiz Under bersama Roma yang tak melesat tinggi bak roket sehingga bikin penggemar AS Roma tak terlalu dibikin terpukau oleh pemuda Turki itu yang sempat digadang-gadang sebagai Paulo Dybala dari Turki. Di sana, Omer Uzun, memberi penerangan. "Dia (Cengiz Under) bekerja keras untuk beradaptasi dengan tim, bahasa dan kehidupan."

Bisa jadi benar, penyebab permainan Cengiz Under tak melambung, karena faktor ini: adaptasi. Pelatih Di Francesco pernah berkata. "Sepakbola Italia berbeda dengan sepakbola Turki." Adaptasi itu yang kemudian bikin jam terbang Cengiz Under di Roma, menjadikannya nomor dua, di antara para pemain lain yang seposisi dengan dirinya. Anda tahu Paulo Dybala, sebelum bermain di Juventus, terlebih dahulu ia berkembang di Palermo. Memang Argentina berbeda dengan Turki, di sini Cengiz Under harus berjuang lebih keras, untuk menaklukan tanah Italia.

Lalu Omer Uzun ditanya mengenai rumor pertukaran peminjaman antara Cengiz Under dengan Matteo Politano, dan ia jawab. "Tak ada perkembangan dalam aspek ini, saya membaca dari surat kabar. Dia baik-baik saja di Roma."

Pertukaran peminjaman antara Cengiz Under (20 tahun, berkebangsaan Turki) dan Matteo Politano (24 tahun, berkebangsaan Italia) dari Sassuolo menjadi dilematis, kurasakan (aku sebagai penggemar AS Roma, dan pemain idola telah menunjuk Cengiz Under). Kita tahu, Politano mantan anak didik Roma, atau menghabiskan karir mudanya di AS Roma, juga di Sassuolo ia pernah dilatih pelatih Di Francesco (dengan mengabaikan data mengenai Defrel yang juga pernah dilatih pelatih Di Francesco saat di Sassuolo), dipertegas dengan melihat permainan Politano meskipun sekilas di YouTube. Profil Politano itu bikin aku jadi begini: berkompromi. Aku melihat permainan Politano tak ubahnya Under secara skill, membaca lebih unggul: Politano lebih faham sepakbola Italia ketimbang Under. Jadi: bila pertukaran ini tercipta, bila aku mau terbuka, maka ini akan bagus untuk Roma. Hasrat melihat Roma juara diakhir musim, lebih besar bersemayam. Tapi andaipun tak jadi, demikian tak melukai hati.

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Enampuluh Empat Menit Cengiz Under Memberi Angin Segar.

Thursday, December 14, 2017

Mereka yang Diprediksi Pergi di Bulan Januari

Embed from Getty Images
Tiap kali bermain PES 2013 kalah, Digleu tak jarang mengeluh. Hingga pernah ia berkata begini. "Para pemain Roma anda edit, ditambahin atribut poinnya, masak Real Madrid kalah terus sama Roma." Selaku yang ia dakwa: dan aku tertawa.

Baca juga: Menerapkan Strategi WhatsApp.

Kata itu, seperti dipertemukan kembali oleh informasi-informasi tentang berita-berita transfer Roma di bulan Januari, kepadaku, mengenai pemain Roma yang diprediksi akan pergi. Aku tertarik dengan satu postingan yang kutemukan di Facebook, dari halaman FanPage Tifosi AS Roma Indonesia, adminnya memberitahu (aku pikir ini bernuansa opini, sehingga perlu aku tuliskan secara orsinil sebagai bentuk penghargaan kepada sebuah ide):

Kemungkinan pemain yang bisa pergi di bulan januari:

1. Bruno Peres
2. Gonalons
3. Cengiz Under
4. Castan
5. Skorupski
6. Moreno

Dan aku membaca postingan itu: curiga demikian. Atau aku bersepakat dengan analisa itu.

Kecuali Cengiz Under (karena pemain muda) dan Skorupski (karena berposisi kiper). Peres dan Gonalons dan Castan dan Moreno, nama-nama ini adalah pemain-pemain matang, yang sejauh ini secara kontribusi tak termanfaatkan kematangannya.

Peres dan Gonalons. Sudah diberikan kesempatan, tapi kelihatannya kurang greget. Dan kalau pergi, jelas ini kudu ada pemain yang datang untuk mengganti, pemain pengganti untuk menjadikan Roma mendekati sempurna.

Castan dan Moreno. Aku pikir ini kurang diberi kesempatan, Castan bahkan belum pernah dimainkan di laga resmi pada musim ini. Aku curiga kalau mengenai Moreno, ini masalahnya ada di bahasa, seperti Cengiz Under, Moreno pernah kubaca masih belajar bahasa Italia. Sementara Castan, memang di jendela transfer musim panas kemarin sudah tak masuk dalam rancangan, tapi tak terbuang (kata brutal untuk: dipinjamkan atau dijual). Castan dan Moreno, keduanya di pos bek tengah. Ini dulu sebagai tambal untuk menutup kehilangan Antonio Rudiger yang dijual ke Chelsea. Tapi ternyata, untuk pos ini, Juan Jesus mengalami perkembangan. Sehingga, bila Castan dan Moreno pergi, dan tak ada yang mengganti, ini tak jadi masalah, atau ada yang ganti tapi dengan kualitas tak mentereng pun tak apa contohnya oleh Armando Izzo, untuk jaga-jaga nanti kalau-kalau ada yang cedera di antara bek tengah mapan ini: Manolas, Fazio, dan Jesus.

Sementara Cengiz Under bolehlah pergi asal nanti kembali, dan yang mengganti nanti kuharap efektif langsung memberi arti (ada berita Politano yang mantan anak didik Roma diancang-ancang sebagai solusi). Sementara Skorupski, barangkali ini dikarenakan Skorupksi yang kepengin main, kiper utama biasanya memang tak tergantikan apalagi mengingat perkembangan Alisson yang makin hari makin elegan menjaga gawang Roma, sehingga Skorupski yang di musim lalu tampil brilian bersama Empoli jadi terlupakan.

Lalu kaitannya dengan kata Digleu apa? Begini: memang skuad Roma pada musim ini laik menang melawan siapapun, termasuk tim dari galaksi lain Real Madrid haha.

#ForzaMonchi
#ForzaRoma :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Tentang Transfer Roma di Bulan Januari.

Perdóname, Amante

Embed from Getty Images
Ini bisa jadi Drama Argentina: Perdóname, Amante.

"Maafkan aku kasih, aku telah berbuat salah. Aku menyesal telah bikin kamu kesal. Aku laki-laki yang tergoda untuk berbuat nakal bermain cinta dengan yang lain, bikin kamu menerbangkan piring-piring seperti orang yang kesetanan. Maafkan aku kasih, telah bikin kamu sedih. Aku berjanji tak akan mengulangi salah."

Oh tentu, itu fiksi. Tak bertautan dengan situasi Diego Perotti. Tapi ekspresi Diego Perotti bikin aku jadi berimaji, dan tak bersinggungan dengan situasi Diego Perotti. Hanya sebatas menafsirkan ekspresi.

Ini bisa digunakan oleh para lelaki yang telah melakukan kesalahan, sebagai sebuah saran. Dalam situasi: tanda kutip itu. Aku pikir ini bisa jadi langkah yang cantik untuk bikin kesalahan menjadi termaafkan. Perdóname, Amante: aku mendapatkan ini dari hasil Google Translet Maafkan aku kekasih dari bahasa Indonesia ke bahasa Spanyol. Kita tahu, orang Argentina menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa resmi, silahkan bisa dicek di Google Search jika tak percaya.

#Haha :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Sesuatu yang Indah dari Diri Diego Perotti.

Wednesday, December 13, 2017

Tentang Transfer Roma di Bulan Januari

Embed from Getty Images
Tentang transfer Roma di bulan Januari, siapakah yang akan didatangkan oleh Monchi?

Pertanyaan itu, masih mengandung misteri, sekaligus mengundang penasaran. Misteri karena transfer bulan Januari belum terjadi yang pasti. Bikin penasaran karena berita-berita tentang ketertarikan Monchi kepada beberapa pemain telah terbaca di media-media.

Transfer bulan Januari itu terlalu sayang kalau sampai dilewatkan oleh Roma, untuk merubah kekurangan (atau kelemahan) yang sebelumnya terbaca di separuh musim yang telah dilalui. Salah satunya dengan cara: menambah pemain untuk menutupi kekurangan itu. Agar Roma di separuh musim berikutnya mendekati sempurna, dengan maksud: biar hasrat dapat tercapai diakhir musim. Sehingga kabar berita mengenai ketertarikan Monchi kepada beberapa pemain untuk disortir lalu dilakukan komunikasi transfer dijadikan sebagai pemain baru Roma di bursa transfer Januari, dengan terbuka aku menyambutnya gembira.

Bruno Peres di bek kanan memang masih mengundang kelemahan jika dibanding Alessandro Florenzi. Alessandro Florenzi bisa menumbuhkan keyakinan ketika ia dipasang sebagai starter untuk pos bek kanan, tapi kalau yang dipasang Bruno Peres hati ini merasa agak was-was, sementara Rick Karsdorp mengalami cedera. Tentu mengandalkan Florenzi terus-terusan sebagai starter akan berdampak pada kelelahan, sehingga dibutuhkan pemain lain untuk mengganti peran Peres. Monchi terbaca mengincar Aleix Vidal dan Matteo Darmian. Vidal maupun Darmian kelihatannya menarik, sebagai pemain rotasi Alessandro Florenzi di pos bek kanan.

Penyerang sayap kanan memang pos yang di bursa transfer musim panas kemarin pun sebenarnya belum tertuntaskan dengan sempurna: gagal mendapatkan Riyad Mahrez atau Domenico Berardi sebagai incaran utama. Meskipun kemudian pada saat itu berhasil mendatangkan: Cengiz Under dan Gregoire Defrel. Cengiz Under masih muda dan baru menginjakkan kakinya di tanah Italia, sementara Defrel posisi murninya sebagai penyerang sentral. Lalu diakhir penutupan Monchi berhasil mendatangkan Patrik Schick, yang sebenarnya kalau tak gagal tes medis di Juventus Schick akan jadi pemain Juventus, juga seandainya Patrik Schick yang duluan datang sebelum Gregoire Defrel, maka Defrel sudah tentu tak akan direkrut Monchi, sebab Schick secara posisi nyaris serupa dengan Defrel. Benar, aku ingin bilang: Defrel adalah pembelian yang gagal, sebab permainan Defrel sejauh ini bikin jengkel. Maka nama Riyad Mahrez kembali ditautkan dengan bursa transfer Roma di bulan Januari, aku jadi penasaran.

Sementara itu, nama-nama ini: Mateo Kovacic, Dani Ceballos, juga Talisca. Kelihatannya Monchi ingin menambah warna karakter di lini tengah Roma, berwarna: gelandang kreatif. Dan nama Leo Baptistao, turut terdengar juga sebagai kandidat wakil Edin Dzeko di pos penyerang sentral, memang kalau situasi perkembangan terbaru, dengan telah bugarnya Patrik Schick (dan tapi masih cedera Defrel), kehadiran Leo Baptistao (mendatangkan penyerang sentral baru) kurasa fifty-fifty ketimbang mendatangkan satu pemain untuk masing-masing pos ini: bek kanan, penyerang sayap kanan (dan atau sayap kanan), juga gelandang kreatif. Presentase untuk masing-masing pos yang kumaksud, kupikir (ditinjau dari kebutuhan tim): sembilanpuluh sembilan.

Sebab orang seperti Monchi (direktur olahraga yang sudah punya nama besar ketika masih berada di Sevilla), tentu tahu betul apa yang harus dilakukan di bursa transfer Januari. Sehingga, aku sebagai salah satu penggemar Roma yang merasa punya darah romawi (meskipun sebatas perasaan), kuserahkan kepada beliau saja bagaimana bagusnya hehe.

#ForzaMonchi
#ForzaRoma :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Biarkan Monchi jadi yang terhebat jadilah AS Roma yang kuat.